Sabtu, 18 Juli 2026

DESAIN PEMBELAJARAN MEGAR (Mindful Beginning – Meaningful Exploration – Growth Monitoring – Joyful Action – Reflective Evaluation)

MEGAR (Mindful Beginning–Meaningful Exploration–Growth Monitoring–Joyful Action–Reflective Evaluation) merupakan desain pembelajaran yang dikembangkan untuk mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi dengan Artificial Intelligence (AI), Social Emotional Learning (SEL), dan Self-Regulated Learning (SRL) sebagai strategi penguatan kemandirian belajar mahasiswa pada era Society 5.0.  Desain pembelajaran ini dirancang sebagai suatu kerangka pembelajaran yang sistematis, adaptif, dan berpusat pada mahasiswa (student-centered learning), dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai mitra belajar (learning partner) serta mengintegrasikan pengembangan kompetensi akademik, sosial emosional, dan regulasi diri dalam setiap tahapan pembelajaran.

Landasan konseptual desain pembelajaran MEGAR mengintegrasikan empat pendekatan utama, yaitu Pembelajaran Berdiferensiasi menurut Tomlinson, Self-Regulated Learning menurut Zimmerman, Social Emotional Learning berdasarkan lima kompetensi CASEL, serta pembelajaran berbantuan Artificial Intelligence. Integrasi keempat pendekatan tersebut menghasilkan suatu desain pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian hasil belajar, tetapi juga pada pembentukan kemampuan mahasiswa dalam merencanakan, mengelola, memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki proses belajarnya secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.

Pembelajaran Berdiferensiasi menurut Tomlinson menjadi fondasi utama dalam mengakomodasi keberagaman karakteristik mahasiswa. Setiap mahasiswa memiliki kesiapan belajar (readiness), minat (interest), serta profil belajar (learning profile) yang berbeda sehingga proses pembelajaran perlu dirancang secara fleksibel agar setiap individu memperoleh kesempatan belajar yang optimal. Dalam desain pembelajaran MEGAR, prinsip diferensiasi diwujudkan melalui penyediaan berbagai alternatif sumber belajar, variasi aktivitas pembelajaran, pilihan bentuk tugas, serta beragam bentuk produk yang dapat dihasilkan mahasiswa. Dosen tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi, tetapi sebagai fasilitator yang merancang lingkungan belajar adaptif sehingga mahasiswa dapat memilih strategi belajar yang paling sesuai dengan kebutuhan dan potensinya. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih inklusif, personal, dan mampu mengoptimalkan perkembangan setiap mahasiswa.

Di sisi lain, Self-Regulated Learning (SRL) menurut Zimmerman menjadi landasan dalam membangun kemandirian belajar mahasiswa. Zimmerman menjelaskan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan kognitif, tetapi juga oleh kemampuan individu dalam mengatur proses belajarnya sendiri melalui tiga fase utama, yaitu forethought, performance, dan self-reflection. Fase forethought menekankan pentingnya penetapan tujuan belajar, perencanaan strategi, serta keyakinan diri sebelum proses belajar dimulai. Fase performance berfokus pada kemampuan mahasiswa dalam mengendalikan perilaku belajar, memonitor pemahaman, mengelola waktu, serta mempertahankan motivasi selama pembelajaran berlangsung. Selanjutnya, fase self-reflection menekankan evaluasi terhadap hasil belajar, analisis penyebab keberhasilan maupun kesulitan, serta penyusunan strategi perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. Ketiga fase tersebut diintegrasikan secara sistematis ke dalam setiap sintaks desain pembelajaran MEGAR sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang mendorong terbentuknya regulasi diri secara berkelanjutan.

Penguatan aspek akademik tersebut kemudian dipadukan dengan Social Emotional Learning (SEL) yang dikembangkan oleh Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL). Pendekatan ini menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa dalam memahami dan mengelola aspek sosial serta emosional selama proses belajar. Kerangka CASEL terdiri atas lima kompetensi utama, yaitu self-awareness, self-management, social awareness, relationship skills, dan responsible decision making. Dalam MEGAR, kelima kompetensi tersebut diintegrasikan ke dalam berbagai aktivitas pembelajaran, seperti penetapan tujuan belajar, refleksi diri, diskusi kolaboratif, penyelesaian studi kasus, kerja kelompok, presentasi, hingga evaluasi pembelajaran. Integrasi ini bertujuan membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang baik, tetapi juga mampu mengelola emosi, bekerja sama secara efektif, menghargai perbedaan, berkomunikasi secara empatik, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam lingkungan akademik maupun profesional.

Komponen keempat yang menjadi pembeda utama MEGAR adalah integrasi Artificial Intelligence (AI) sebagai mitra belajar (learning partner). Dalam desain ini, AI tidak diposisikan sebagai pengganti peran dosen ataupun mahasiswa, melainkan sebagai teknologi pendukung yang memperkaya pengalaman belajar melalui pemberian scaffolding yang adaptif dan personal. Artificial Intelligence dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa memahami konsep yang kompleks, menghasilkan contoh dan ilustrasi, menyusun ringkasan materi, melakukan brainstorming ide, memperoleh latihan soal yang sesuai dengan tingkat kemampuan, menerima umpan balik secara cepat, serta memperoleh rekomendasi strategi belajar berdasarkan kebutuhan masing-masing. Sementara itu, dosen memanfaatkan AI untuk mendukung penyusunan perangkat pembelajaran, pengembangan media, penyusunan instrumen asesmen, analisis hasil belajar, hingga pemberian umpan balik yang lebih efektif. Seluruh pemanfaatan AI dalam MEGAR dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi prinsip etika akademik, transparansi, integritas, perlindungan data, serta tanggung jawab dalam penggunaan teknologi sehingga AI berfungsi sebagai pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir kritis mahasiswa.

Integrasi keempat pendekatan tersebut menghasilkan suatu desain pembelajaran yang holistik, karena tidak hanya berorientasi pada pencapaian capaian pembelajaran (learning outcomes), tetapi juga pada pengembangan proses belajar mahasiswa secara menyeluruh. Pembelajaran tidak lagi dipandang sebagai proses transfer pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa, melainkan sebagai proses konstruksi pengetahuan yang melibatkan aspek kognitif, metakognitif, sosial, emosional, dan teknologi secara terpadu. Mahasiswa didorong untuk menetapkan tujuan belajar, memilih strategi yang sesuai dengan karakteristiknya, memanfaatkan berbagai sumber belajar termasuk Artificial Intelligence secara bertanggung jawab, memonitor perkembangan belajar secara mandiri, berkolaborasi dengan teman sejawat, serta melakukan refleksi dan perbaikan berkelanjutan terhadap proses belajarnya.

 Desain pembelajaran ini memiliki lima sintaks utama yang saling berkesinambungan, yaitu Mindful Beginning, Meaningful Exploration, Growth Monitoring, Joyful Action, dan Reflective Evaluation. Kelima sintaks tersebut membentuk suatu siklus pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa mengalami proses belajar yang lebih personal, reflektif, kolaboratif, dan bermakna.

Tahap pertama, Mindful Beginning (Sadar Tujuan Belajar), merupakan fase orientasi yang bertujuan membangun kesadaran belajar mahasiswa sebelum memasuki materi perkuliahan. Pada tahap ini dosen menyampaikan capaian pembelajaran, kompetensi yang harus dicapai, alur kegiatan, bentuk asesmen, serta pemanfaatan Artificial Intelligence sebagai pendamping belajar. Selanjutnya mahasiswa menyusun tujuan belajar personal (goal setting) melalui Learning Log berbasis Google Form atau Google Drive. Mahasiswa juga memilih strategi belajar yang paling sesuai dengan karakteristik, minat, dan kesiapan belajarnya, seperti belajar melalui video, membaca artikel ilmiah, diskusi kelompok, pembuatan peta konsep, atau menggunakan AI untuk melakukan brainstorming dan penyusunan ringkasan materi. Aktivitas pada fase ini bertujuan menumbuhkan kompetensi Self Awareness dan Self Management dalam Social Emotional Learning sekaligus mengembangkan fase Forethought pada Self-Regulated Learning.

Tahap kedua, Meaningful Exploration (Memaknai Konsep), merupakan fase eksplorasi konsep secara mendalam melalui pembelajaran berdiferensiasi. Dosen menyediakan berbagai sumber belajar dalam berbagai format, meliputi materi inti, video pembelajaran, bahan pengayaan, artikel ilmiah, maupun referensi jurnal internasional. Mahasiswa diberikan kebebasan memilih sumber belajar sesuai kebutuhan dan kemampuan belajarnya. Artificial Intelligence dimanfaatkan sebagai learning assistant untuk membantu menjelaskan konsep, membuat analogi, menyusun contoh penerapan, maupun menyederhanakan materi yang kompleks. Selanjutnya mahasiswa mengikuti diskusi kontekstual melalui Google Classroom dengan membahas permasalahan nyata yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Interaksi tersebut bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, serta kompetensi Social Awareness dan Relationship Skills dalam kerangka Social Emotional Learning.

Tahap ketiga, Growth Monitoring (Jejak Perkembangan), merupakan fase pemantauan perkembangan belajar mahasiswa. Pada tahap ini mahasiswa mengerjakan mini kuis, misalnya mini kuis yang terdiri atas berbagai bentuk soal, seperti pilihan ganda, pilihan ganda hubungan antar konsep, maupun pilihan ganda kompleks. Hasil kuis digunakan sebagai umpan balik awal terhadap tingkat penguasaan materi. Selain itu mahasiswa mengisi Learning Log kedua yang berisi kegiatan self-monitoring mengenai konsep yang telah dipahami, kesulitan belajar yang dihadapi, efektivitas strategi belajar yang digunakan, kondisi emosional selama proses belajar, serta rencana perbaikan pada pertemuan berikutnya. Artificial Intelligence digunakan sebagai tutor pribadi untuk menghasilkan latihan soal tambahan, memberikan penjelasan terhadap jawaban yang masih keliru, serta merekomendasikan materi yang perlu dipelajari kembali. Fase ini mengembangkan kemampuan Self Monitoring dalam Self-Regulated Learning serta kompetensi Self Management dan Responsible Decision Making (Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab) dalam Social Emotional Learning.

Tahap keempat, Joyful Action (Aksi Pembelajaran), merupakan fase implementasi pengetahuan melalui tugas aplikatif yang menuntut mahasiswa menghasilkan produk nyata. Bentuk tugas disesuaikan dengan karakteristik mata kuliah. Misalnya, pada mata kuliah Pembelajaran Terpadu, mahasiswa melaksanakan simulasi mengajar secara berkelompok, menyusun perangkat pembelajaran, memproduksi video praktik mengajar, kemudian mengunggah hasilnya melalui Google Classroom. Artificial Intelligence dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam penyusunan skenario pembelajaran, pengembangan media pembelajaran, penyusunan rubrik penilaian, maupun pemberian umpan balik terhadap produk yang dihasilkan mahasiswa. Fase ini mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi, serta kompetensi Relationship Skills dan Responsible Decision Making.

Tahap kelima, Reflective Evaluation (Evaluasi Bermakna), merupakan fase refleksi komprehensif terhadap keseluruhan proses pembelajaran. Mahasiswa mengisi Log Learning akhir yang berisi refleksi mengenai keberhasilan belajar, kesulitan yang masih dialami, perkembangan kemampuan sosial emosional, efektivitas strategi belajar, pengalaman menggunakan Artificial Intelligence selama pembelajaran, serta target perbaikan pada pembelajaran berikutnya. Berdasarkan hasil refleksi tersebut mahasiswa menyusun Personal Learning Improvement Plan yang memuat tujuan belajar berikutnya, strategi yang akan digunakan, sumber belajar yang diperlukan, jadwal belajar, serta indikator keberhasilan yang akan dicapai. Artificial Intelligence dimanfaatkan sebagai pemberi rekomendasi dan umpan balik terhadap rencana peningkatan belajar yang telah disusun mahasiswa sehingga proses refleksi tidak berhenti pada evaluasi, tetapi berlanjut menjadi perencanaan pembelajaran berikutnya. Tahap ini merupakan implementasi fase Self Reflection dalam Self-Regulated Learning sekaligus memperkuat kompetensi Self Awareness dan Responsible Decision Making.

Sebagai suatu desain pembelajaran, desain pembelajaran MEGAR didukung oleh perangkat pembelajaran digital yang meliputi Learning Management System berbasis Google Classroom, Google Form, Google Drive, Google Docs, Google Spreadsheet, serta berbagai platform Artificial Intelligence generatif seperti ChatGPT, Gemini, NotebookLM, maupun aplikasi AI lainnya yang digunakan secara etis sesuai kebutuhan pembelajaran. Seluruh aktivitas mahasiswa terdokumentasi dalam Log Learning digital sehingga dosen dapat memonitor perkembangan akademik maupun perkembangan regulasi diri mahasiswa secara berkelanjutan.

Sistem penilaian dalam desain pembelajaran ini menggunakan pendekatan asesmen autentik yang mencakup penilaian proses dan hasil belajar. Komponen penilaian meliputi Log Learning, aktivitas diskusi kontekstual, mini kuis, tugas aplikatif, produk pembelajaran, presentasi, serta Personal Learning Improvement Plan. Dengan demikian, evaluasi pembelajaran tidak hanya menilai penguasaan materi, tetapi juga mengukur perkembangan Self-Regulated Learning, kompetensi Social Emotional Learning, kemampuan berpikir kritis, kemampuan kolaborasi, serta kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan Artificial Intelligence secara bertanggung jawab.

Keunikan atau kebaruan (novelty) desain pembelajaran MEGAR terletak pada integrasi sistematis antara pembelajaran berdiferensiasi, Artificial Intelligence, Social Emotional Learning, dan Self-Regulated Learning ke dalam satu sintaks pembelajaran yang utuh dan berkesinambungan. Berbeda dengan desain pembelajaran konvensional yang hanya menempatkan Artificial Intelligence sebagai alat bantu pencarian informasi, desain pembelajaran ini memosisikan Artificial Intelligence sebagai mitra belajar yang mendukung seluruh siklus pembelajaran, mulai dari perencanaan, eksplorasi konsep, pemantauan perkembangan, pelaksanaan tugas aplikatif, hingga refleksi dan penyusunan rencana peningkatan belajar. Integrasi tersebut diperkuat dengan penggunaan Log Learning digital sebagai instrumen utama untuk memfasilitasi pengembangan regulasi diri mahasiswa secara berkelanjutan. Dengan karakteristik tersebut, desain pembelajaran MEGAR menjadi sebuah desain pembelajaran inovatif yang relevan dengan tuntutan pembelajaran di era Society 5.0 dan memiliki potensi untuk diterapkan pada berbagai mata kuliah di pendidikan tinggi.


Selasa, 03 November 2020

AGAR FOKUS DAN KONSISTEN DALAM HAL APAPUN

 

Pertanyaan terbesar dalam hidup kita adalah “mengapa kita mengerjakan tugas yang sudah kita rencanakan?” terkadang kita berniat menyelesaikan tugas di waktu itu juga namun baru 10 menit fokus kita teralihkan ketika melihat layar HP. Kita teralihan pada hal-hal yang sebenarnya kita sendiri sadari bahwa hal-hal tersebut tidak penting untuk kita. Itu semua karena kita terdistraksi. Alasan mengapa seseorang terdistraksi yaitu:

1.      Sesuatu yang merenggut fokus dari hal yang biasa kita kerjakan.

2.      Masalahnya dari dalam diri sendiri. Terkadang otak kita tidak berhenti memikirkan hal lain saat melakukan sesuatu hal.

3.      Tidak tahu mau melakukan apa, kita tidak memiliki perencanaan. Jadi fokus kita dikendalikan oleh kondisi eksternal sehingga ketika ada stimulus dari luar maka kamu akan ikut dengan stimulus itu, ada stimulus lain terpengaruh lagi, dan seterusnya. Kita ibaratnya hanya hidup dalam bayang-bayang orang lain.

Kita terdistraksi karena berkeinginan untuk menghindari perasaan tidak enak terhadap kegiatan yang ingin kita lakukan. Misalnya mau belajar, pikirannya bosan dengan pelajaran tersebut. Padahal sebenarnya kita tahu banyak tugas  yang ingin kita kerjakan tapi kita terlanjur terdistraksi. Ini beberapa cara yang mungkin kita lakukan untuk melatih fokus:

1.      Ketahui apa yang seharusnya kita lakukan pada waktu tersebut. Coba jawab pertanyaan ini, ’apa yang seharusnya kamu lakukan di pukul 13.30 nanti?’. Kalau kamu masih bingung, itu artinya kamu belum menetapkan jadwal kegiatanmu.

2.      Buat jadwalnya, kita seharusnya tahu waktu yang kita punya kita harus melakukan apa. Misalnya, dalam satu hari ke depan kita harus tahu apa yang harus kita lakukan, kapan? dan berapa lama?

3.      Jika sudah waktunya untuk belajar, maka siapkan lingkungannya. Jika tidak butuh smartphone maka jauhkan smartphone dari lingkungan belajar tersebut. Dan desain lingkunganmu untuk mendukung fokus.

4.      Kalau misalnya sudah menyediakan lingkungan namun kita kembai lagi terdistraksi dari dalam. Caranya adalah tunda distraksi. Misalnya ketika mengerjakan sesuatu tiba-tiba kepikiran kepingin buka smartphone maka caranya adalah katakan pada diri kita untuk menunda 10 menit lagi untuk melakukan hal tersebut. Jadi, ketika terdistraski kita hanya butuh menjawab gangguan tersebut, tidak mesti melakukan gangguan yang muncul dari dalam karena kita hanya butuh kepastian saja. Dengan seperti itu keinginan untuk melakukan hal lain akan meturun.

5.      Yang terpenting dari kesemuanya adalah di awal-awal mungkin kita akan gagal. No problem, yang perlu kita sadari adalah kita dalam proses memperbaiki diri kita hanya butuh bersabar, dan berusaha mengulang-ulanginya.

6.      Perhatikan konsentrasi

Menurut Dr. Ibrahim Elfiky hukum konsentrasi adalah hukum paling kuat. “apapun yang menjadi pusat konsentrasi ia akan memgaruhi sikap, perasaan, dan perilaku”. Konsentrasi dapat menyebabkan tiga hal yaitu ketidakpedulian, generalisasi dan imajinasi. Ketika kita konsentrasi pada sesuatu, akal akan menepis informasi lain untuk memberikan tempat pada sesuatu yang menjadi pusat perhatian kita. Ia juga melakukan generalisasi pusat perhatian hingga perasaan tergerak dan melahirkan perilaku. Misalnya, ketika kita membuka Instagram dengan tujuan untuk melihat info pendidikan. Namun, ketika pertama kali membuka instagram muncul sebuah informasi lain yang membuat kita tertarik sehingga konsentrasi kita beralih. Jadi, kuncinya adalah ketika konsentrasi lain hadir di pikiran kita maka kita harus kembalikan pada konsentrasi pertama sebagai gantinya. Karena kita akan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ada di pikiran kita dan pikiran adalah awal dari segala sesuatu. Apapun yang membuat kita konsentrasi, ia akan menjadikan kita fokus dan merasakannya. Akal akan mengabaikan segala sesuatu yang lain supaya kita bisa memberikan perhatian lebih pada sesuatu yang menjadi objek konsentrasi. Ingat! Akal manusia tidak bisa terkonsentrasi pada dua hal  atau lebih dari satu waktu.

Rabu, 14 Oktober 2020

BELAJAR ANTI BOSAN

       

Siapa yang tidak mengenal Imam Malik? Ulama Madinah yang sangat pandai dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu. Imam Malik rahimahullahu mengisahkan tentang dirinya semasa kecil saat akan menuntut ilmu bahwa,Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan,‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik,)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’”.

Dari kisah di atas dapat kita pelajari bahwa adab adalah salah satu kunci utama konsitensi dan kesungguhan Imam Malik dalam menuntut ilmu. Adab didahulukan dari ilmu karena dengan beradab kita meraih ilmu. Jadi dengan memahami adab dalam menuntut ilmu maka ilmunya akan menjadi berkah, ilmunya akan bertahan lama. Oleh karena itu, orang paham adab akan cenderung konsisten dalam menuntut sebuah ilmu, sehingga menjadikan mereka pembelajar yang haus akan ilmu dan terhindar dari kebosanan. Di bawah ini beberapa kiat-kiat yang bisa kita lakukan untuk menjaga konsistensi belajar alias belajar anti bosan.


1.      Pahami esensi menuntut ilmu, tentukan tujuan dan target belajarmu

Yang perlu kita pahami adalah mengapa kita ingin menguasai ilmu tersebut? Apa yang ingin kita dapatkan? Bagaimana benefitnya terhadap diri kita?. Sebelum mempelajari dan menargetkan sesuatu tentunya ita harus punya muara agar paham arah dan tujuan. Jadi, sebelum belajar tentukan dan beri batasan belajarmu sesuai apa yang kamu butuhkan. Selanjutnya berikan waktu terhadap dirimu berapa lama waktu yang akan kamu  gunakan untuk menguasai ilmu tersebut.


2.      Pahami cara belajarmu

Setelah menentukan target hendaknya kita memahami cara beajar yang tepat dan efektif untuk kita. Misalnya kamu lebih senang belajar sambil dengar ceramah, ataukah suka belajar sambil ngemil. Nah, dengan seperti itu, persiapkan belajarmu dan penuhi apa yang menjadi penunjang untuk kenyamanan belajar. Pastikan juga, temukan tempat yang cocok.

Pastikan tempat belajarmu terhindar dari gangguan, pastikan tempat belajarmu mendapat pencahayaan yang cukup agar kamu tetap fokus.


3.      Piliih Waktu dimana kamu paling aktif

Pahami di waktu mana kamu paling efektif untuk belajar

WAKTU TERBAIK UNTUK BELAJAR

KHASIAT

03.00 – 05.00 Pagi

Pada waktu ini, otak manusia berada dalam kondisi fresh karena setelah istirahat (tidur malam). Ditambah dengan suasana tenang dan kondusif, yang mendukung kegatan belajar.

07.00 – 10.00 Pagi

Kondisi otak yang belum banyak digunakan untuk beraktivitas dan berpikir berat, membuat fokus kita menjadi lebih baik, sehingga lebih mudah menerima dan mengolah informasi.

19.00 – 21.00 Malam

Untuk memaksimalkan waktu belajar di malam hari, usahakan untuk langsung istirahat (tidur malam) setelah belajar. Bukan melakukan aktivitas seperti nontin TV, main game atau malah begadang.


4.      Temukan gurumu (harus ada falitas bertanya) sumber belajar

Hal yang terkadang membuat kita berhenti belajar adalah karena kita mentok pada satu permasalahan. Jadi, pastikan kamu punya fasilitas yang yang dapat membantu kamu untuk menjawab pertanyaan pertanyaanmu, misalnya fasilitas internet, buku bacaan. 


5.     Ingat pesan Imam Syafi’i

Imam Syafi’I mengatakan bahwa  tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yaitu (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama.


6.      Just Do It

Yang paling penting dari semuanya adalah lakukan. Yang telah kamu targetkan segera lakukan, jangan menunggu nanti karena nanti tidak ada batasnya. Menunda hari ini sama dengan harapanmu semakin jauh.

 

 

SIUMBER:

https://www.gomuslim.co.id/read/belajar_islam/2019/12/19/16548/-p-adab-menuntut-ilmu-menurut-imam-syafi-rsquo-i-p-.html

https://muslim.or.id/21717-menuntut-ilmu-pelajari-adab-dulu.html

https://muslim.or.id/35690-60-adab-dalam-menuntut-ilmu.html

https://id.wikihow.com/Belajar-Tanpa-Menjadi-Bosan

Kamis, 10 September 2020

AGAR MENUNGGU, TAK SEKEDAR MENUNGGU KATA 'ACC'

Mencapai gelar serjana di suatu perguruan tinggi melalui sebuah proses yang panjang, proses ini dilakukan untuk mencapai kualitas diri sesuai yang dicita-citakan, sehingga kebanyakan mahasiswa berusaha mengambil ilmu yang bermanfaat untuk pencapaian kualitas diri lebih baik, untuk menjadi teladan masyarakat karena pendidikan tidak hanya sebatas serjana tetapi pendidikan sepanjang hayat.

Sarjana dan yudisium bahkan wisuda merupakan satu paket untuk sebuah keabsahan gelar sang mahasiswa. Namun, dibalik foto-foto bahagia tentang kelulusan wisudawan/wisudawati terdapat proses yang panjang dan penuh perjuangan. Perjuangan menyelesaikan tugas kuliah, hidup jauh dari keluarga, dan paling terkenal adalah perjuangan menunggu dosen, terutama bagi mahasiswa yang sedang dalam tahap penyelesaian tugas akhir.

Mahasiswa semester akhir merupakan mahasiswa yang sedang giat-giatnya melakukan bimbingan untuk penyelesaian skripsi. Menunggu merupakan kata yang tidak asing lagi dikalangan mahasiswa, apalagi bagi mereka yang sedang dalam tahap penyelesaian tugas akhir. Menunggu merupakan kata yang paling booming dikalangan mahasiswa siswa semester akhir. Menunggu merupakan pekerjaan mahasiswa terutama mahasiswa semester akhir, seperti menunggu untuk bimbingan dengan dosen, menuggu pengurusan berkas untuk ujian, menunggu pengumuman jadwal ujian, menunggu kepastian dari dosen, menunggu masa penelitian, menunggu balasan WA dosen, dan menunggu kata ACC dari dosen.

Menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan bukan?, karena harus menyisakan waktu untuk menanti kedatangan kabar  yang diharapkan. Menunggu akan sangat membosankan ketika tidak ada kepsatian karena banyak waktu yang tersita hingga berjam-jam. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang merasa bahwa dalam proses menunggu mereka terlalu fokus untuk menanti kedatangan dosen ataupun info-info tentang tugas akhir, sehingga mereka merasa memiliki sedikit waktu untuk ibadah kepada Allah azza wa jalla. Namun, Kebanyakan juga dari mahasiwa lebih memilih untuk bermain gadget, live streaming dan membuka sosial media untuk mengisi kekosongan saat menunggu.

Melalui potret ini seakan-akan menunggu merupakan hal yang sama sekali tidak ada manfaat bagi subjeknya. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan waktu-waktu menunggu agar tak sekadar menunggu, sehingga membuahkan hasil yang lebih bermanfaat, sertakan hal-hal kecil yang mendulang pahala dari Allah azza wa jalla. Untuk itu, salah satu hal yang dapat dilakukan saat menunggu yaitu mengisi moment menunggu dengan ibadah-ibadah kecil seperti memperbanyak istighfar.

Istigfar merupakan ibadah lisan yang bisa dilakukan kapan saja, termasuk saat-saat menunggu untuk bimbingan. Manfaatkan waktu menunggu dengan memperbanyak istigfar kepada Allah azza wa jalla. Menunggu sesuatu yang pasti saja biasanya membuat kebanyakan mahasiswa kurang sabar apalagi sesuatu yang tidak pasti. Oleh karena itu, memperbanyak istighfar yang benar kepada Allah azza wa jalla InsyaAllah akan mengurangi amarah dan membuat lebih sabar menunggu. Selain itu, hasil dari proses menunggu yaitu diinginkannya dimudahkan bimbingan dan pengurusan tugas semester akhir maka perbanyak istigfar karena salah satu manfaat insigfar yaitu akan mandapat cinta Allah azza wa jalla. Sebagimana dalam terjemahan qur’an Ali Imran ayat 33 yaitu, “ Katakan Muhammad jika kita mencintai Allah, maka buktikan cinta kita”. Jadi, libatkan Allah dalam setiap urusan kehidupan. Meskipun sibuk dengan urusan skripsi tetap libatkan Allah, Bosan menunggu ingat Allah dengan banyak-banyak beristigjfar karena salah satu manfaat istigfar yaitu dimudahkannya urusan orang-orang yang senantiasa beritigfar kepada Allah azza wa jalla. Jadi, jika sudah mendapatkan cinta Allah azza wa jalla, tanpa meminta pun, Allah akan berikaan. Allah akan melengkapi kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang senantiasa beristigfar tanpa meminta sekalipun.

Belajar dari suatu kisah tukang Roti  pada masa Imam Ahmad bi Hambal yang selalu memanfaatkan waktu untuk beristigfar kepada Allah azza wa jalla. Seorang tukang roti yang selalu memanfaatkan waktunya untuk beristigfar bahkan sampai membuat roti setiap waktunya beristigfar kepada Allah azza wa jalla  dengan istigfar yang benar.  Kebutuhan-kebutuhan si tukang roti selalu terkabul karena Tukang roti tersebut sangat meyakini dan memahami bahwa apa yang di inginkannya selalu terkabul dengan istigfar kepada Allah azza wa jalla. Kata Ibnu Qoyyim Al Jauziah, “jika memiliki permohonan yang begitu banyak tapi hanya memiliki waktu yang singkat, maka cukup perbanyak dengan istigfar kepada Allah azza wa jalla”. Jika tukang roti yang sibuk dengan membuat roti bisa memanfaatkan waktu untuk beribdah kepada Allah azza wa jalla, apalagi mahasiswa semester akhir yang memiliki banyak waktu kosong di saat-saat menunggu bimbingan dosen.

Jadi, jadikan setiap waktu adalah ibadah karena sesungguhnya bukan karena seseorang tidak meiliki waktu yang lapang, hanya saja seseorang tidak pernah memprioritaskan dan menanamkan dalam hati. Dengan begitu, menunggu bukanlah sesuatu yang membosankan tapi mengajarkan kesabaran dan memberikan kesempatan yang banyak untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla. Manfaatkan waktu luang dengan hal-hal yang lebih bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah. Jadikan menunggu tak sekedar  menunggu tetapi menjadi ladang untuk mendulang pahala kepada Allah azza wa jalla dengan memperbanyak istigfar. Agar menunggu, tak sekedar menunggu kata ACC.

DESAIN PEMBELAJARAN MEGAR (Mindful Beginning – Meaningful Exploration – Growth Monitoring – Joyful Action – Reflective Evaluation)

MEGAR (Mindful Beginning–Meaningful Exploration–Growth Monitoring–Joyful Action–Reflective Evaluation) merupakan desain pembelajaran yang di...