Selasa, 03 November 2020

AGAR FOKUS DAN KONSISTEN DALAM HAL APAPUN

 

Pertanyaan terbesar dalam hidup kita adalah “mengapa kita mengerjakan tugas yang sudah kita rencanakan?” terkadang kita berniat menyelesaikan tugas di waktu itu juga namun baru 10 menit fokus kita teralihkan ketika melihat layar HP. Kita teralihan pada hal-hal yang sebenarnya kita sendiri sadari bahwa hal-hal tersebut tidak penting untuk kita. Itu semua karena kita terdistraksi. Alasan mengapa seseorang terdistraksi yaitu:

1.      Sesuatu yang merenggut fokus dari hal yang biasa kita kerjakan.

2.      Masalahnya dari dalam diri sendiri. Terkadang otak kita tidak berhenti memikirkan hal lain saat melakukan sesuatu hal.

3.      Tidak tahu mau melakukan apa, kita tidak memiliki perencanaan. Jadi fokus kita dikendalikan oleh kondisi eksternal sehingga ketika ada stimulus dari luar maka kamu akan ikut dengan stimulus itu, ada stimulus lain terpengaruh lagi, dan seterusnya. Kita ibaratnya hanya hidup dalam bayang-bayang orang lain.

Kita terdistraksi karena berkeinginan untuk menghindari perasaan tidak enak terhadap kegiatan yang ingin kita lakukan. Misalnya mau belajar, pikirannya bosan dengan pelajaran tersebut. Padahal sebenarnya kita tahu banyak tugas  yang ingin kita kerjakan tapi kita terlanjur terdistraksi. Ini beberapa cara yang mungkin kita lakukan untuk melatih fokus:

1.      Ketahui apa yang seharusnya kita lakukan pada waktu tersebut. Coba jawab pertanyaan ini, ’apa yang seharusnya kamu lakukan di pukul 13.30 nanti?’. Kalau kamu masih bingung, itu artinya kamu belum menetapkan jadwal kegiatanmu.

2.      Buat jadwalnya, kita seharusnya tahu waktu yang kita punya kita harus melakukan apa. Misalnya, dalam satu hari ke depan kita harus tahu apa yang harus kita lakukan, kapan? dan berapa lama?

3.      Jika sudah waktunya untuk belajar, maka siapkan lingkungannya. Jika tidak butuh smartphone maka jauhkan smartphone dari lingkungan belajar tersebut. Dan desain lingkunganmu untuk mendukung fokus.

4.      Kalau misalnya sudah menyediakan lingkungan namun kita kembai lagi terdistraksi dari dalam. Caranya adalah tunda distraksi. Misalnya ketika mengerjakan sesuatu tiba-tiba kepikiran kepingin buka smartphone maka caranya adalah katakan pada diri kita untuk menunda 10 menit lagi untuk melakukan hal tersebut. Jadi, ketika terdistraski kita hanya butuh menjawab gangguan tersebut, tidak mesti melakukan gangguan yang muncul dari dalam karena kita hanya butuh kepastian saja. Dengan seperti itu keinginan untuk melakukan hal lain akan meturun.

5.      Yang terpenting dari kesemuanya adalah di awal-awal mungkin kita akan gagal. No problem, yang perlu kita sadari adalah kita dalam proses memperbaiki diri kita hanya butuh bersabar, dan berusaha mengulang-ulanginya.

6.      Perhatikan konsentrasi

Menurut Dr. Ibrahim Elfiky hukum konsentrasi adalah hukum paling kuat. “apapun yang menjadi pusat konsentrasi ia akan memgaruhi sikap, perasaan, dan perilaku”. Konsentrasi dapat menyebabkan tiga hal yaitu ketidakpedulian, generalisasi dan imajinasi. Ketika kita konsentrasi pada sesuatu, akal akan menepis informasi lain untuk memberikan tempat pada sesuatu yang menjadi pusat perhatian kita. Ia juga melakukan generalisasi pusat perhatian hingga perasaan tergerak dan melahirkan perilaku. Misalnya, ketika kita membuka Instagram dengan tujuan untuk melihat info pendidikan. Namun, ketika pertama kali membuka instagram muncul sebuah informasi lain yang membuat kita tertarik sehingga konsentrasi kita beralih. Jadi, kuncinya adalah ketika konsentrasi lain hadir di pikiran kita maka kita harus kembalikan pada konsentrasi pertama sebagai gantinya. Karena kita akan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ada di pikiran kita dan pikiran adalah awal dari segala sesuatu. Apapun yang membuat kita konsentrasi, ia akan menjadikan kita fokus dan merasakannya. Akal akan mengabaikan segala sesuatu yang lain supaya kita bisa memberikan perhatian lebih pada sesuatu yang menjadi objek konsentrasi. Ingat! Akal manusia tidak bisa terkonsentrasi pada dua hal  atau lebih dari satu waktu.

Rabu, 14 Oktober 2020

BELAJAR ANTI BOSAN

       

Siapa yang tidak mengenal Imam Malik? Ulama Madinah yang sangat pandai dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu. Imam Malik rahimahullahu mengisahkan tentang dirinya semasa kecil saat akan menuntut ilmu bahwa,Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan,‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik,)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’”.

Dari kisah di atas dapat kita pelajari bahwa adab adalah salah satu kunci utama konsitensi dan kesungguhan Imam Malik dalam menuntut ilmu. Adab didahulukan dari ilmu karena dengan beradab kita meraih ilmu. Jadi dengan memahami adab dalam menuntut ilmu maka ilmunya akan menjadi berkah, ilmunya akan bertahan lama. Oleh karena itu, orang paham adab akan cenderung konsisten dalam menuntut sebuah ilmu, sehingga menjadikan mereka pembelajar yang haus akan ilmu dan terhindar dari kebosanan. Di bawah ini beberapa kiat-kiat yang bisa kita lakukan untuk menjaga konsistensi belajar alias belajar anti bosan.


1.      Pahami esensi menuntut ilmu, tentukan tujuan dan target belajarmu

Yang perlu kita pahami adalah mengapa kita ingin menguasai ilmu tersebut? Apa yang ingin kita dapatkan? Bagaimana benefitnya terhadap diri kita?. Sebelum mempelajari dan menargetkan sesuatu tentunya ita harus punya muara agar paham arah dan tujuan. Jadi, sebelum belajar tentukan dan beri batasan belajarmu sesuai apa yang kamu butuhkan. Selanjutnya berikan waktu terhadap dirimu berapa lama waktu yang akan kamu  gunakan untuk menguasai ilmu tersebut.


2.      Pahami cara belajarmu

Setelah menentukan target hendaknya kita memahami cara beajar yang tepat dan efektif untuk kita. Misalnya kamu lebih senang belajar sambil dengar ceramah, ataukah suka belajar sambil ngemil. Nah, dengan seperti itu, persiapkan belajarmu dan penuhi apa yang menjadi penunjang untuk kenyamanan belajar. Pastikan juga, temukan tempat yang cocok.

Pastikan tempat belajarmu terhindar dari gangguan, pastikan tempat belajarmu mendapat pencahayaan yang cukup agar kamu tetap fokus.


3.      Piliih Waktu dimana kamu paling aktif

Pahami di waktu mana kamu paling efektif untuk belajar

WAKTU TERBAIK UNTUK BELAJAR

KHASIAT

03.00 – 05.00 Pagi

Pada waktu ini, otak manusia berada dalam kondisi fresh karena setelah istirahat (tidur malam). Ditambah dengan suasana tenang dan kondusif, yang mendukung kegatan belajar.

07.00 – 10.00 Pagi

Kondisi otak yang belum banyak digunakan untuk beraktivitas dan berpikir berat, membuat fokus kita menjadi lebih baik, sehingga lebih mudah menerima dan mengolah informasi.

19.00 – 21.00 Malam

Untuk memaksimalkan waktu belajar di malam hari, usahakan untuk langsung istirahat (tidur malam) setelah belajar. Bukan melakukan aktivitas seperti nontin TV, main game atau malah begadang.


4.      Temukan gurumu (harus ada falitas bertanya) sumber belajar

Hal yang terkadang membuat kita berhenti belajar adalah karena kita mentok pada satu permasalahan. Jadi, pastikan kamu punya fasilitas yang yang dapat membantu kamu untuk menjawab pertanyaan pertanyaanmu, misalnya fasilitas internet, buku bacaan. 


5.     Ingat pesan Imam Syafi’i

Imam Syafi’I mengatakan bahwa  tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yaitu (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama.


6.      Just Do It

Yang paling penting dari semuanya adalah lakukan. Yang telah kamu targetkan segera lakukan, jangan menunggu nanti karena nanti tidak ada batasnya. Menunda hari ini sama dengan harapanmu semakin jauh.

 

 

SIUMBER:

https://www.gomuslim.co.id/read/belajar_islam/2019/12/19/16548/-p-adab-menuntut-ilmu-menurut-imam-syafi-rsquo-i-p-.html

https://muslim.or.id/21717-menuntut-ilmu-pelajari-adab-dulu.html

https://muslim.or.id/35690-60-adab-dalam-menuntut-ilmu.html

https://id.wikihow.com/Belajar-Tanpa-Menjadi-Bosan

Kamis, 10 September 2020

AGAR MENUNGGU, TAK SEKEDAR MENUNGGU KATA 'ACC'

Mencapai gelar serjana di suatu perguruan tinggi melalui sebuah proses yang panjang, proses ini dilakukan untuk mencapai kualitas diri sesuai yang dicita-citakan, sehingga kebanyakan mahasiswa berusaha mengambil ilmu yang bermanfaat untuk pencapaian kualitas diri lebih baik, untuk menjadi teladan masyarakat karena pendidikan tidak hanya sebatas serjana tetapi pendidikan sepanjang hayat.

Sarjana dan yudisium bahkan wisuda merupakan satu paket untuk sebuah keabsahan gelar sang mahasiswa. Namun, dibalik foto-foto bahagia tentang kelulusan wisudawan/wisudawati terdapat proses yang panjang dan penuh perjuangan. Perjuangan menyelesaikan tugas kuliah, hidup jauh dari keluarga, dan paling terkenal adalah perjuangan menunggu dosen, terutama bagi mahasiswa yang sedang dalam tahap penyelesaian tugas akhir.

Mahasiswa semester akhir merupakan mahasiswa yang sedang giat-giatnya melakukan bimbingan untuk penyelesaian skripsi. Menunggu merupakan kata yang tidak asing lagi dikalangan mahasiswa, apalagi bagi mereka yang sedang dalam tahap penyelesaian tugas akhir. Menunggu merupakan kata yang paling booming dikalangan mahasiswa siswa semester akhir. Menunggu merupakan pekerjaan mahasiswa terutama mahasiswa semester akhir, seperti menunggu untuk bimbingan dengan dosen, menuggu pengurusan berkas untuk ujian, menunggu pengumuman jadwal ujian, menunggu kepastian dari dosen, menunggu masa penelitian, menunggu balasan WA dosen, dan menunggu kata ACC dari dosen.

Menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan bukan?, karena harus menyisakan waktu untuk menanti kedatangan kabar  yang diharapkan. Menunggu akan sangat membosankan ketika tidak ada kepsatian karena banyak waktu yang tersita hingga berjam-jam. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang merasa bahwa dalam proses menunggu mereka terlalu fokus untuk menanti kedatangan dosen ataupun info-info tentang tugas akhir, sehingga mereka merasa memiliki sedikit waktu untuk ibadah kepada Allah azza wa jalla. Namun, Kebanyakan juga dari mahasiwa lebih memilih untuk bermain gadget, live streaming dan membuka sosial media untuk mengisi kekosongan saat menunggu.

Melalui potret ini seakan-akan menunggu merupakan hal yang sama sekali tidak ada manfaat bagi subjeknya. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan waktu-waktu menunggu agar tak sekadar menunggu, sehingga membuahkan hasil yang lebih bermanfaat, sertakan hal-hal kecil yang mendulang pahala dari Allah azza wa jalla. Untuk itu, salah satu hal yang dapat dilakukan saat menunggu yaitu mengisi moment menunggu dengan ibadah-ibadah kecil seperti memperbanyak istighfar.

Istigfar merupakan ibadah lisan yang bisa dilakukan kapan saja, termasuk saat-saat menunggu untuk bimbingan. Manfaatkan waktu menunggu dengan memperbanyak istigfar kepada Allah azza wa jalla. Menunggu sesuatu yang pasti saja biasanya membuat kebanyakan mahasiswa kurang sabar apalagi sesuatu yang tidak pasti. Oleh karena itu, memperbanyak istighfar yang benar kepada Allah azza wa jalla InsyaAllah akan mengurangi amarah dan membuat lebih sabar menunggu. Selain itu, hasil dari proses menunggu yaitu diinginkannya dimudahkan bimbingan dan pengurusan tugas semester akhir maka perbanyak istigfar karena salah satu manfaat insigfar yaitu akan mandapat cinta Allah azza wa jalla. Sebagimana dalam terjemahan qur’an Ali Imran ayat 33 yaitu, “ Katakan Muhammad jika kita mencintai Allah, maka buktikan cinta kita”. Jadi, libatkan Allah dalam setiap urusan kehidupan. Meskipun sibuk dengan urusan skripsi tetap libatkan Allah, Bosan menunggu ingat Allah dengan banyak-banyak beristigjfar karena salah satu manfaat istigfar yaitu dimudahkannya urusan orang-orang yang senantiasa beritigfar kepada Allah azza wa jalla. Jadi, jika sudah mendapatkan cinta Allah azza wa jalla, tanpa meminta pun, Allah akan berikaan. Allah akan melengkapi kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang senantiasa beristigfar tanpa meminta sekalipun.

Belajar dari suatu kisah tukang Roti  pada masa Imam Ahmad bi Hambal yang selalu memanfaatkan waktu untuk beristigfar kepada Allah azza wa jalla. Seorang tukang roti yang selalu memanfaatkan waktunya untuk beristigfar bahkan sampai membuat roti setiap waktunya beristigfar kepada Allah azza wa jalla  dengan istigfar yang benar.  Kebutuhan-kebutuhan si tukang roti selalu terkabul karena Tukang roti tersebut sangat meyakini dan memahami bahwa apa yang di inginkannya selalu terkabul dengan istigfar kepada Allah azza wa jalla. Kata Ibnu Qoyyim Al Jauziah, “jika memiliki permohonan yang begitu banyak tapi hanya memiliki waktu yang singkat, maka cukup perbanyak dengan istigfar kepada Allah azza wa jalla”. Jika tukang roti yang sibuk dengan membuat roti bisa memanfaatkan waktu untuk beribdah kepada Allah azza wa jalla, apalagi mahasiswa semester akhir yang memiliki banyak waktu kosong di saat-saat menunggu bimbingan dosen.

Jadi, jadikan setiap waktu adalah ibadah karena sesungguhnya bukan karena seseorang tidak meiliki waktu yang lapang, hanya saja seseorang tidak pernah memprioritaskan dan menanamkan dalam hati. Dengan begitu, menunggu bukanlah sesuatu yang membosankan tapi mengajarkan kesabaran dan memberikan kesempatan yang banyak untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla. Manfaatkan waktu luang dengan hal-hal yang lebih bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah. Jadikan menunggu tak sekedar  menunggu tetapi menjadi ladang untuk mendulang pahala kepada Allah azza wa jalla dengan memperbanyak istigfar. Agar menunggu, tak sekedar menunggu kata ACC.

AGAR FOKUS DAN KONSISTEN DALAM HAL APAPUN

  Pertanyaan terbesar dalam hidup kita adalah “mengapa kita mengerjakan tugas yang sudah kita rencanakan?” terkadang kita berniat menyelesai...